Pola Tingkah Laku Berpolitik dan Budaya Politik Masyarakat Kabupaten Situbondo


Situbondo adalah sebuah kapupaten yang tidak terlalu dikenal dikawasan profinsi jawa timur, karena tidak ada sesuatu yang dapat dibanggakan baik dari segi pendidikan, pariwisata, budaya, ekonomi, dan pembangunan daerah. Kabupaten situbondo sebenarnya daerah yang kaya akan sumberdaya alam, tapi yang menjadi masalah disini adalah tidak satupun pemimpin yang bisa mengembangkan potensi sumber daya alam tersebut.

Masyarakat situbondo merupakan masyarakat yang kebanyakan tingkat pendidikannya masih dibawah standar nasional, dan tingkat pendidikan tersebut mempengaruhi pola tingkah laku politik, baik dalam menentukan wakil rakyat, pemimpin daerah, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kekuasaan.

Masyarakat situbondo dikenal sebagai masyarakat yang fanatic terhadap partai-partai yang menggunakan simbol-simbol keislaman, dan dewasa ini masyarakat sudah mulai sadar bahwa mereka menjadi korban sebuah kepentingan politik, dimana para politikus hanya peduli dengan mereka diwaktu menjelang pemilihan umum baik pemilihan wakil rakyat, Pilpres, maupun Pilkada. Para selalu memberikan janji-janji manis akan memperjuangkan rakyat dan memberi pendidikan gratis, jaminan kesehatan, memberi lapangan pekerjaan, intinya memberi kesejahtraan buat rakyat, tapi apa yang terjadi setelah para politikus menduduki jabatan yang ia impikan mereka lupa dengan janji-janji yang diumbarkan waktu kampanye, yang paling memprihatinkan mereka lupa dengan keberadaan rakyat kelas bawah. Dari sinilah muncul asumsi bahwa para politikus hanya dekat dengan rakyatnya diwaktu memiliki kepentingan.

Fenomina seperti inilah yang menyebabkan rakyat menjadi matrealis, mereka akan memberikan suara kalau para politikus memberikan uang dan beras. Masyarakat bertingkah laku seperti ini karena merasa kecewa memberikan suaranya secara gratis dan setelah itu aspirasinya tidak diperjuangkan. Pola tingkah laku seperti Ini merupakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh masyarakat situbondo karena mereka tidak selektif lagi dalam menentukan siapa yang layak memimpin dan menjadi wakil didaerahnya. Klo kita sadari selama 5 tahun kedepan dengan berjalannya waktu, hidup ditentukan oleh siapa yang memimpin dan siapa yang menjadi wakil kita. Klo rakyat salah memilih maka mereka tidak akan lepas dari penderitaan, mereka akan tetap miskin, akan tertindas, sakit-sakitan, tidak bisa melanjutkan sekolah, dan akan menjadi pengangguran. Apakah seperti ini yang masyarakat mau???klo anda tidak mau, singkirkan politikus yang berkompetisi dengan money politik. Pilih pemimpin dan wakil yang benar-benar dengan iklas akan memperjuangkan hak semua rakyat…

Yang perlu kita tahu, Para politikus yang berkompetisi dengan menggunakan money politik, menunjukkan bahwa mereka tidak berpotensi, tidak sungguh-sungguh akan memperjaungkan aspirasi rakyat, dan mereka tidak layak untuk kita dipilih.

Dari latar belakang diataslah penulis akan mencoba berbagi pengetahuan mengenai pola tingkah laku politik dan budaya politik disitubondo, tulisan ini sya persembahkan buat seluruh masyarakat situbondo tercinta.

Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik. Budaya politik dilihat dari perilaku politik masyarakat Situbondo antara mendukung atau antipasti dan juga perilaku yang dipengaruhi oleh orientasi umum atau opini publik. Sebelum masuk kebahasan selanjutnya, penulis akan memberika penjelasan mengenai tipe-tipe budaya politik sesuai dengan teori, yang mana Tipe-tipe budaya politik tersebut diantaranya:

1. Budaya parokial yaitu budaya politik yang terbatas pada wilayah tertentu bahkan masyarakat belum memiliki kesadaran berpolitik, sekalipun ada menyerahkannya kepada pemimpin lokal seperti suku.

2. Budaya Kaula artinya masyarakat sudah memiliki kesadaran terhadap sistem politik namun tidak berdaya dan tidak mampu berpartisipasi sehingga hanya melihat outputnya saja tanpa bisa memberikan input.

3. Budaya partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik.

4. budaya politik campuran, maksudnya disetiap bangsa budaya politik itu tidak terpaku kepada satu budaya, sekalipun sekarang banyak negara sudah maju, namun ternyata tidak semuanya berbudaya partisipan, masih ada yang kaula dan parokial. Inilah yang kemudian disebut sebagai budaya politik campuran.

Dari empat tipe tersebut, budaya politik masyarakat situbondo lebih mengarah pada budaya politik parochial karena dilihat dan tingkat pendidikan masyarakan situbondo yang rata-rata berpendidikan rendah, selain itu juga bisa dikatan peternalisme yang artinya asal kiai senang atau melihat latarbelakang yang ada hubungannya dengan keluarga kiai, padahal tidak semuai kiai atau keluarga kiai yang memiliki pemahaman tinggi terhadap dunia perpolitikan, karena untuk berpolitik kita harus belajar mengenai “pemikiran politik barat dan politik islam”. paradikma separti inilah yang menyebabkan masyarkat situbondo tidak selektif dalam memilih pemimpin dan wakilnya, saya katakan tidak selektif karena pola tingkah laku pemilih tidak melihat dari kapabiltas dan kwalitas yang dipilih.

mengutip juga komentarnya Ke’ Lora No’e di facebook saya kemaren : budaya politik di Situbondo tdk hanya parochial,harus diingat bhw Situbondo mempunyai karakteristik tersendiri bila dibanding dg daerah lain, dunia perpolitikan di Situbondo tdk terlepas dari pengaruh dominan sang pemegang titah (debuna kiyae),ini mirip2 dg dinasti (pinjam istilah kerajaan),dinasti dan kyai (Ponpes) adalah pemegang titah karena didukung oleh keturunan dan kelompoknya,teori monarchi dg jelas mengatakan bhw semakin banyak keturunan maka semakin banyak pula pendukungnya.Bukti : Semua raja cenderung mempunyai selir, dari selir2 inilah akan lahir beberapa keturunan, dan dari keturunan inilah akan lahir pendukung2 dan lama kelamaan akan terbentuk apa yg disebut dg “Instituion Buliding”.Nah..sekrng bagaimana dg Situbondo yg nota bene Kota Santri,jika bener Situbondo Kota Santri maka dibeberapa penjuru Situbondo ada pusat2 pesantren,pertanyaan2 seputar pesantren harus kita kaji terlebih dahulu seperti bagaimana asal usul pesantren,bagaimana budaya pesantren,bagaimana sosialisasi pesantren,bagaimana metode pendidikan pesantren,bagaimana hubungan keluarga dg para guru/kyai dll. Setelah Pertanyaan2 tsb terjawab maka pertanyaan terakhir yg mempunyai hubungan yg signifikan dg pertanyaan2 diatas adalah “Apakah Situbondo yg Kota Santri (banyak Ponpes) mempunyai hubungan yg sifnifikan terhadap perkembangan politik dan kebijakan Pemerintah Daerah Situbondo?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: